Skip to main
  • Blog
  • Bagaimana Vaksinasi Dapat Menuntaskan Pandemi COVID-19?

Bagaimana Vaksinasi Dapat Menuntaskan Pandemi COVID-19?

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial. Adanya kebijakan pemberian vaksin COVID-19 membawa harapan bagi masyarakat untuk pemulihan kondisi Global dari segala aspek.

Vaksinasi COVID-19 akan memperkecil kemungkinan terjadinya gejala yang berat dan komplikasi akibat infeksi SARS-CoV-2, sehingga dapat menekan angka kesakitan dan kematian.

Lalu, apa itu vaksin dan bagaimana vaksin COVID-19 dapat menghasilkan kekebalan tubuh hingga membangun Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)?

Vaksin COVID-19

Vaksin merupakan produk biologi yang berisi antigen atau zat asing berupa mikroorganisme atau bagiannya atau zat yang dihasilkannya yang telah diolah sedemikian rupa untuk memberikan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Proses Pengembangan Vaksin COVID-19

Sama halnya dengan pembuatan obat atau vaksin lainnya, pembuatan vaksin COVID-19 melalui tahap penelitian dan uji klinis untuk memastikan bahwa vaksin aman dan dapat bekerja dengan baik. Berikut serangkaian tahapan pengembangan vaksin:

  1. Studi Pre Klinis

    Vaksin disuntikkan kepada hewan percobaan untuk mengetahui efikasi dan keamanan dari vaksin. Organ-organ dari hewan percobaan diperiksa, jika tidak terjadi perubahan kondisi yang tidak baik, maka akan dilanjutkan uji klinis kepada manusia.

  2. Uji Klinis Fase I

    Untuk menguji keamanan dari vaksin, vaksin disuntikkan kepada kelompok kecil sukarelawan dewasa yang berada dalam kondisi sehat.

  3. Uji Klinis Fase II

    Vaksin diberikan kepada kelompok yang lebih besar, para sukarelawan akan dikelompokkan berdasarkan karakteristik yang sama (seperti umur dan kesehatan fisik) sehingga didapat hasil yang beragam.

  4. Uji Klinis Fase III

    Vaksin diberikan kepada lebih banyak orang untuk menguji efikasi dan keamanan vaksin. Peneliti akan memantau respon kekebalan tubuh para sukarelawan dan memantau apakah timbul efek samping atau tidak.

  5. Fase IV Pengawasan Setelah Pemasaran

    Setelah vaksin dinyatakan aman dan efektif untuk digunakan, pada tahap ini vaksin akan diberikan izin edar dari BPOM untuk disuntikkan kepada manusia secara luas.

Kenapa vaksin COVID-19 dapat dikembangkan secara cepat?

Pengembangan vaksin umumnya merupakan proses yang panjang dan mahal karena penundaan yang disebabkan oleh pengajuan pendanaan, persetujuan etik, perekrutan relawan dan sebagainya. Namun, dalam keadaan darurat seperti pandemi COVID-19, pembuatan vaksin dapat berlangsung cepat, mengapa demikian? Berikut beberapa alasannya:

  1. Prioritas dan Kolaborasi

    Peneliti, dokter, dewan persetujuan etika, produsen dan badan pembuat regulasi bersatu dan berkolaborasi untuk bekerja lebih keras dan lebih cepat dalam pengembangan vaksin COVID-19.

  2. Ilmu Pengetahuan

    Pengembangan vaksin COVID-19 merupakan hasil dari kemajuan dalam teknologi vaksin yang dibangun berdasarkan penelitian selama bertahun-tahun.

  3. Pendanaan

    Pemerintah dan badan pendanaan telah bergabung guna mencegah adanya kendala keuangan dalam pembuatan vaksin COVID-19.

  4. Produsen

    Pembuatan vaksin skala besar terjadi bersamaan dengan uji klinis untuk meningkatkan produksi secara cepat.

  5. Relawan

    Dalam uji klinis vaksin COVID-19, terdapat relawan dalam jumlah besar yakni sekitar 10.000 orang, sehingga perekrutan tidak menjadi masalah dan proses uji klinis berjalan dengan lancar dan cepat.

Cara Kerja Vaksin

Vaksin bukanlah obat, vaksin merangsang pembentukan kekebalan spesifik tubuh agar terhindar dari tertular ataupun sakit berat. Berikut cara kerja vaksin dalam melindungi tubuh.

  • Setelah vaksin disuntikkan, maka produk biologi yang terdapat pada vaksin akan memancing tubuh untuk memproduksi protein yang serupa secara mandiri.
  • Sel-sel kekebalan tubuh akan mengenali protein tersebut sebagai zat atau benda asing, sehingga tubuh akan memulai proses kekebalan.
  • Sel kekebalan tubuh akan mengeluarkan antibodi yang akan menempel pada protein asing tersebut dan mengaktifkan Sel T untuk menargetkan dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi oleh protein asing .
  • Sel-sel kekebalan tubuh akan memanggil sel-sel lainnya, sehingga semakin banyak sel kekebalan tubuh yang terbentuk dan semakin kuat untuk mengalahkan protein asing.
  • Kemudian, sel kekebalan tubuh akan menghasilkan sel memori, sehingga ketika sel kekebalan tubuh mendeteksi datangnya virus corona, maka antibodi dan sel T akan diaktifkan secara cepat untuk menghentikan penyebaran virus corona ke seluruh tubuh serta mengurangi kerusakan tubuh yang disebabkan oleh virus.

Efikasi Vaksin COVID-19

Terdapat beberapa jenis vaksin COVID-19 yang telah memiliki izin edar dan izin pakai dari WHO. Setiap vaksin diketahui memiliki efikasi yang berbeda. Efikasi merupakan persentase penurunan kejadian penyakit pada kelompok orang yang divaksinasi. Jadi, efikasi menunjukkan kemampuan vaksin, tapi dalam konteks penelitian.

Ada beberapa perbedaan efikasi vaksin COVID-19 dari masing-masing produsen yang kini sudah dipublikasi, yaitu:

  • Sinovac-Bio Farma: 50-96%
  • Pfizer-Biontech: 90%
  • Novavax: 89%
  • Oxford-AstraZeneca: 62%-90%
  • Moderna: 95%
  • Sinopharm: 79%
  • Sputnik V: 92-95%
  • Johnson & Johnson: 66%-85%

Ketika seseorang telah vaksinasi, ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri, tapi juga dapat melindungi keluarga dan orang-orang disekitarnya yang belum memiliki kekebalan imun terhadap virus corona. Hal ini disebut sebagai Kekebalan Kelompok (Herd Immunity).

Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)

Kekebalan Kelompok (Herd immunity) atau Kekebalan Populasi adalah konsep imunisasi di mana suatu populasi dapat terlindung dari virus tertentu jika ambang cakupan imunisasi tercapai. Kekebalan kelompok tercapai bukan dengan cara memaparkan virus kepada manusia, melainkan dengan melindungi manusia dari virus.

Vaksin akan melatih sistem imun untuk menciptakan protein yang dapat melawan penyakit, protein ini disebut antibodi. Jadi, jika seseorang terpapar pada suatu penyakit, maka vaksin tersebut akan bekerja melindunginya, dengan begitu virus tidak akan menyebar luas, rantai penularan pun dapat terputus.

Bagaimana Herd Immunity dapat tercipta?

Kekebalan Kelompok (Herd immunity) terjadi ketika sebagian besar populasi di suatu wilayah kebal terhadap penyakit menular tertentu, sehingga akan memberikan perlindungan tidak langsung (kekebalan kelompok) bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular.

Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap suatu virus, 4 (empat) dari 5 (lima) orang yang terpapar dengan penderita penyakit tersebut tidak akan sakit dan tidak akan menyebarkan virus tersebut lebih luas. Dengan begitu, penyebaran penyakit tersebut dapat dikendalikan.

Untuk mencapai Kekebalan Kelompok (herd immunity), umumnya populasi harus memenuhi kekebalan sebesar 70% hingga 90%, namun hal ini harus diukur dari seberapa menular suatu infeksi.

Penting untuk diingat bahwa vaksin tidak menggantikan protokol kesehatan ataupun sebaliknya, namun saling melengkapi sebagai usaha mendapatkan perlindungan yang lebih optimal terhadap infeksi virus.

Sumber:

  • WHO. 2020. Pertanyaan Jawaban Terkait COVID-19, Lockdown, Herd Immunity
  • Kementerian Kesehatan RI. 2020. Apa itu Herd Immunity (Kekebalan Kelompok)?
  • Kementerian Kesehatan RI. 2020. Frequently Asked Question: Seputar Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19
  • British Society for Immunology. 2021. How have vaccines for COVID-19 been developed so fast?
  • WHO. 2020. COVID-19 Vaccine Development