Skip to main
  • Blog
  • Jenis KIPI Secara Umum dan Tips Penanganannya
Tips Penanganan KIPI

Jenis KIPI Secara Umum dan Tips Penanganannya

Apa itu KIPI?

KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) adalah sebuah istilah yang digunakan di bidang kedokteran untuk suatu kondisi yang terjadi berhubungan dengan imunisasi.

Apakah KIPI pasti terjadi?

KIPI belum tentu terjadi. Terdapat faktor-faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya KIPI, seperti contohnya riwayat alergi. Agar KIPI tidak terjadi, maka tenaga medis akan memastikan bahwa tidak ada faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian KIPI, sehingga kemungkinan terjadinya KIPI bisa diminimalisir. Berdasarkan WHO Western Pacific 1999, penyebab KIPI digolongkan menjadi 5 kelompok penyebab, yaitu:

  1. Kesalahan Program/Teknik Pelaksanaan (Programmatic Errors)
  2. Reaksi Suntikan
  3. Induksi Vaksin (Reaksi Vaksin)
  4. Reaksi lokal
  5. Reaksi sistemik
  6. Reaksi vaksin berat
  7. Faktor Kebetulan (Koinsiden)
  8. Penyebab Tidak Diketahui

...

Jenis KIPI & Tips Penanganan

1. Rasa Nyeri di Tempat Suntikan
  • Klasifikasi KIPI: Reaksi Suntikan
  • Deskripsi: Timbul rasa nyeri pada daerah suntikan
  • Penanganan: Jika nyeri dirasa sampai mengganggu aktivitas, maka boleh diberikan paracetamol dengan dosis sesuai usia dan berat badan
2. Sinkop / Fainting / Pingsan
  • Klasifikasi KIPI: Reaksi Suntikan
  • Deskripsi:
    • Sering terjadi pada anak usia > 5 tahun
    • Terjadi beberapa menit pasca imunisasi
  • Penanganan:
    • Tidak perlu penanganan khusus
    • Hindari stres saat anak menunggu
    • Hindari trauma akibat jatuh → posisi saat vaksinasi sebaiknya duduk
3. Hiperventilasi Akibat Ketakutan
  • Klasifikasi KIPI: Reaksi Suntikan
  • Deskripsi: Napas menjadi cepat akibat ketakutan (biasanya ketakutan ketika melihat jarum suntik)
  • Penanganan
    • Tidak perlu penanganan khusus
    • Hindari stres saat anak menunggu
    • Hindari trauma akibat jatuh → posisi saat vaksinasi sebaiknya duduk
4. Kejang Demam
  • Deskripsi:

    • Bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh dengan suhu lebih dari 37,5 °C
    • Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun
    • Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam
    • Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam
  • Klasifikasi:

    • Kejang Demam Sederhana
      • Berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri
      • Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam
    • Kejang Demam Kompleks. Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:
      • Kejang lama > 15 menit
      • Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar
      • Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
      • Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar
      • Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
  • Penanganan:

    • Tetap tenang dan tidak panik
    • Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher
    • Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.
    • Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut
    • Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang
    • Tetap bersama pasien selama kejang
    • Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
    • Berikan diazepam rektal 0,5 - 0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan lebih dari 10 kg
    • Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit
    • Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih
5. Demam
  • Deskripsi: Kenaikan suhu tubuh lebih dari 37,5 °C
  • Penanganan:
    • Berikan obat penurun panas (antipiretik) paracetamol dengan dosis sesuai berat badan 10 –15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali
    • Jika hanya ada ibuprofen, maka bisa diberikan dengan dosis sesuai berat badan 5-10 mg/ kg/kali, 3-4 kali sehari
    • Jika demam tidak kunjung turun walaupun sudah diberikan antipiretik, maka perlu dibawa ke rumah sakit
6. Syok Anafilaktik
  • Deskripsi: Suatu keadaan mengancam nyawa yang perlu penanganan segera oleh tim medis. Ciri-ciri:
    • Terlihat sulit bernapas
    • Napas cepat dan pendek-pendek
    • Harus segera dibawa ke IGD terdekat, tidak boleh ditunda! Setiap detik sangat berharga

...

Sumber:
Ranuh ICNG, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, Gunardi H, et al. Pedoman Imunisasi Di Indonesia, Edisi Keenam Tahun 2017. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia